Monday, February 15, 2016

Membaca Sampai Mati


Kenapa membaca bisa menjadi sangat penting. Baik, analogi mudahnya seperti ini. Saat pertama sekali kita masuk sekolah. Adakah di antara murid-murid baru itu yang kita kenal. Bisa jadi ada. Namun kebanyakan dari mereka belum kenal sama sekali. Bandingkan ketika acara kelulusan sekolah . Adakah diantara teman-teman kita yang tidak kita kenali?. Sekalipun dalam kesehariannya dia seorang pendiam. Tapi tetap saja kita akan mengenalnya. Lantas kenapa kita bisa sedemikian kenalnya bahkan sebagiannya menjadi teman dekat, dengan orang yang bahkan diawal masuk sekolah, namanya saja tidak kita tahu?. Tepat, jawabannya adalah interaksi!

Semakin banyak interaksi, artinya semakin dalam kita mengetahui sesuatu. Sampai-sampai Umar bin Khattab pernah mengatakan, jika kamu ingin mengenal karakter seseorang lakukan 3 hal ini , bepergian bersamanya, tidur bersamanya, dan berniaga bersamanya. Standar pendalaman karakter seseorang yang disampaikan Umar adalah bentuk interaksi. 

Bahkan konon, untuk membangun rasa cinta dibutuhkan interaksi yang intensif. Makanya sebagian besar pasangan pernikahan adalah hasil yang sebelumnya terbentuk dari interaksi lapangan. Aktifis dengan aktifis, pengusaha dengan pengusaha, ustad TPA dengan Ustadzah TPA dst. 

Dari sini, saya melihat interaksi melahirkan dua hal yang sangat istimewa. Yaitu perhatian dan cinta. Sebagaimana yang saya jelaskan diatas, interaksi menumbuhkan semangat untuk mengetahui dan memperhatikan sesuatu. Seorang komentator sepakbola misalnya, karena interaksinya yang kuat atas persepakbolaan, maka ia merasa perlu untuk memperhatikan dunia tersebut dari A-Z. Begitu pula seorang wali kelas, ia merasa perlu mengetahui karakter dan latar belakang anak didiknya karena interaksi yang kuat itu. Dan cinta, adalah pemekaran dari perhatian yang dilakukan terus menerus. Semakin banyak interaksi maka semakin banyak perhatian, dan tumbuhlah benih-benih cinta.

Beralih kepada budaya membaca. Adakah kemudian kita telah banyak berinteraksi sebagaimana kita berinteraksi dengan teman-teman sekolah kita?. Jika kita mengenal betul siapa yang duduk disamping kanan dan kiri kita sewaktu di sekolah, itu karena kita memperhatikan mereka setiap hari. Sedang membaca sudahkah benar-benar kita melakukannya setiap hari? 

Jika belum, artinya kita belum melahirkan perhatian kepada membaca. Dan untuk mencintainya adalah sebuah kemustahilan. 

Efek yang paling tidak akan muncul dari seseorang yang tidak mencintai membaca adalah merasa diri sudah hebat, diliputi kemiskinan ilmu dan materi, tidak cerdas berpendapat dll.

Satu saja hal yang ingin saya angkat dari dampak malas membaca. Diliputi kemiskinan ilmu dan harta. Sandiaga Uno, salah satu orang terkaya di Indonesia dalam beberapa seminarnya pernah menyampaikan, "Ada kesamaan antara orang-orang yang berjuang dari nol hingga sukses mencapai puncaknya masing-masing, yaitu budaya membaca." Dan menurut Ippho Santosa, "Kenapa orang dengan budaya membaca susah miskinnya? Karena kemiskinan adalah kebodohan, dan kebodohan adalah kegelapan. Sedang membaca adalah aktifitas mencari ilmu, dan ilmu adalah cahaya. Jadi saat seseorang banyak membaca, maka ia senantiasa dinaungi dengan cahaya dan jauh dari kemiskinan yang gelap."

Jika seandainya tukang becak mau menyisihkan uangnya untuk selalu membeli buku. Bukan tidak mungkin dia bisa menjadi konglomerat. Atau siapapun dengan penghasilan berapapun jika ia benar-benar membudayakan membaca, tak akan pernah merugi orang tersebut. Yakinlah.

Dan lagi membaca itu membentuk karkater. Kelas 3 SMP, saya sempat membeli buku Misteri Sholat Shubuh, karya DR.Raghib As-Sirjani. Tujuannya satu, saya ingin menjadi orang yang mudah bangun subuh. Memang tidak serta merta, selesaipun saya membaca buku tersebut, saya masih tetap sulit bangun subuh. Namun ternyata proses perubahan itu kian lama makin terjadi. Dan akhirnya sayapun mulai terbiasa bangun subuh ketika azan berkumandang. Apakah ini kebetulan?. Baik kita lanjutkan

Masih dari pengalaman saya. Tahun 2012. Saya punya resolusi untuk mempunyai beberapa aktifitas positif yang dilakukan setiap hari. Salah satunyanya adalah membaca Al-Qur'an satu juz per hari. Namun ternyata diluar perkiraan. Resolusi ini susahnya bukan main. Dua sampai tiga hari terjalankan dihari keempat dan seterusnya mulai kendur. Berulang-ulang saya lakukan namun tetap tidak konsisten. Nah, di bulan april 2013, saya sempat jalan-jalan disebuah toko buku ternama. Ada sebuah buku yang begitu menarik perhatian saya, judulnya "Habits" karya Felix Y. Siauw. Saya beli, dan tidak sampai dua minggu buku itu khatam. Hasilnya, masih sama. Saya tetap belum konsisten. Namun ditahun selanjutnya saya bergabung di ODOJ 152. Hingga hari ini saya sudah hampir setahun mengikuti program tersebut bahkan ditambah dengan konsisten membaca 25 halaman perhari. Sungguh menakjubkan. 

Terakhir, ibarat tunas muda membaca itu perlu dipupuk dan dirawat. Konsisten dan berusaha untuk selalu membaca dan mempunya target kapan buku akan diselesaikan. Maka suatu saat ia akan berubah menjadi batang yang kuat dan kokoh, dimana saat kita tidak membaca kita merasa ada yang kurang sebagaimana kita haus karena belum minum atau lapar karena belum makan.


EmoticonEmoticon