Monday, January 18, 2016

Menulis Karena Cinta

Habiburrahman El-Shirazy

Karya-karya besar lahir dari perasaan cinta. Ditulis dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Bahkan malaikat pun iri dan mengiringi penulisnya dengan doa. Karya-karya besar itu lahir atas dasar cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada Al-Qur'an, cinta kepada Rasulullah.

Dahulu, orang tak mengenal ilmu kaidah bahasa Arab, sebab secara struktural mereka telah memahami betul tanpa perlu mempelajarinya. Namun diperiode selanjutnya Islam semakin berkembang. Konstantinopel ditaklukan, Damaskus, Persia bahkan Palestina. Berbondong-bondong pula orang masuk Islam. karena dari bahasa dan dialek yang berbeda, maka pembelajaran kaidah-kaidah bahasa Arab dirasa sangat perlu. Oleh khalifah Ali bin abi thalib meminta Abu Aswad ad-duali untuk meramu ilmu ini, yang sekarang dikenal dengan ilmu Nahwu dan Sharaf. Ingat karena cinta ia terlahir.

Muhammad Bin Ismail al Bukhari yang lebih dikenal dengan imam Bukhari , oleh para ulama menyepakati kitabnya sebagai kitab rujukan nomor dua setelah Al-Qur'an. Sedikit kisah bagaimana karya emas ini lahir, dikisahkan oleh Ibnu Hajar Al-asqalani melalui kitab Fathul Bari. Bahwa imam Bukhari suatu ketika bermimpi bertemu dengan Rasulullah yang saat itu memakai jubah berdebu, lantas kemudian imam bukhari mendekat dan membersihkan debu-debu yang ada pada jubah Rasulullah. Bangun dari tidurnya imam bukhari kemudian mencari seseorang yang mampu membaca takwil mimpinya, bertemulah ia dengan ulama yang menjelaskan perihal takwil tersebut. Darinya imam Bukhari mengetahui jika takwil tersebut adalah isyarat untuk membersihkan hadist-hadist Rasulullah dari hadist palsu. Lantas mengembaralah ia kesemua tempat yang pernah didengarnya terdapat orang yang meriwayatkan hadist hatta terkumpul 6600 hadist, diseleksi dan dibukukan dalam kitab yang kita kenal dengan Shahih Bukhari. Lagi-lagi cintalah penggeraknya.

Menulis tanda berkembangnya peradaban

Ada dua konsep menarik tentang peradaban manusia. Kita mengenal sebuah pengertian sejarah atas dsasar telah mengenal tulisan, dan pra sejarah adalah kebalikannya. Jadi ini logika awal sebuah peradaban dikatakan sebagai peradaban yang maju. Selanjutnya peradaban yang mampu mentransformasikan nilai-nilai menulis dalam lingkungannya akan menjadi peradaban yang lebih unggul dibanding yang lainnya.

Saat perhatian khilafah islamiyah terhadap menulis begitu besar, Islam terpandang dan mulia. Pernah utusan romawi datang ke Damaskus untuk sebuah urusan, ia begitu terpesona dengan keindahan kota tersebut. Dilihatnya peradaban yang menakjubkan dan aneka perkembangan yang tak didapatinya di negerinya. Sedang dinegaranya, mandipun masih menggunakan daun.

Islam sendiri memandang membaca dan menulis adalah sesuatu yang tinggi dan bernilai. Surat Al-alaq 1-5 menggambarkan ini. Bahkan dalam sirah kita dapati saat perang badar, Rasulullah akan membebaskan para tawanan dengan bayaran yang terbilang mahal, namun ada pengecualian khusus kepada para tawanan yang mampu membaca dan menulis. Mereka bisa bebas dengan syarat mengajarkan kemampuannya kepada masyarakat.

Tulisan  mampu merubah

Dalam surat An Naml terdapat kisah menarik, nabi Sulaiman menulis surat kepada ratu Biqlis, penguasa kerajaan Saba'. Ia menyampaikan kepada ratu tersebut untuk datang kepadanya dan masuk Islam. Dan semua tahu, pada akhirnya ratu serta pengikutnya yang  menyembah matahari menyatakan beriman kepada Allah.

Seorang yahudi bernama Benyamin Ze-ev atau dikenal dengan Theodore Herzl, menulis sebuah buku The Jewish State dengan semangat untuk mengumpulkan seluruh yahudi yang tersebar didunia dalam naungan sebuah negara yahudi bernama Israel. Melalui buku tersebutlah sebuah konferensi yahudi sedunia diadakan untuk merumuskan negara zionis. Dan 1948 negara tersebut berdiri di Palestina.

Tsu zu, siapa yang tak kenal namanya. Bahkan penguasa, menteri, CEO, dan siapa saja yang ingin memahami tak mengalahkan lawan dengan strategi perang, haruslah membaca buku tersebut. Dan tak dapat dipungkiri Tsu Zu telah membawa pengaruh yang luas terhadap peradaban manusi. Walau dirinya sudah beratus tahun meninggal dunia.

Menulislah, karena dengan menulis kita akan membawa perubahan dan menjadi salah satu aktor dari peradaban. Cukupkan dengan cinta karena ia yang akan menjadi energinya.

(Terinspirasi dari ceramah Habiburrahman El-Shirazy di Jerman)


EmoticonEmoticon