Ditahun 2011, aku berangkat ke Banda Aceh setelah dinyatakan lulus di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (dulu IAIN). Tak ada teman, aku berangkat bersama keluarga untuk melakukan registrasi ulang. Ibu, Ayah dan adik kecil yang masih TK juga ikut menemani. Terlalu berat rasanya meninggalkan kampung halaman, barangkali karena sejak aku lahir hingga lulus SMA, tak ada tempat perantauan yang kutapaki. Namun kali ini berbeda, aku harus hijrah. Pergi untuk waktu yang lama. Pergi untuk masa depan yang lebih cerah.
Bersama keluarga, aku berangkat ke Banda Aceh untuk kedua kalinya. Disana kami harus bolak-balik untuk menyelesaikan registrasi yang sangat panjang. Sebagai orang yang tak pernah merantau aku benar-benar tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Belum lagi melihat orang tua yang kelelahan saat melakukan registrasi itu, aku benar-benar merasa bersalah. Kenapa harus merantau? atau ini tempat yang salah?.
Di Banda, tak ada satu orang pun yang kukenali. Tak ada teman disana, jikapun ada sulit mencari rimbanya. Semua proses registrasi sampai mencari tempat kost kulakukan bersama keluarga. Ayahku mondar-mandir bertanya kesana kemari. Beruntung kami bertemu tukang becak yang ramah. Diantarnya, hingga kami menemukan tempat yang cocok untukku tinggal.
Dilingkungan ini pun, aku masih terasa asing. Ditambah dengan komunikasi yang sulit karena kebanyakan menggunakan bahasa daerah dan aku belum bisa menguasainya. Masih teringat, saat aku pertama kali tinggal di kost-kostan, sendirian. Waktu malam datang aku menghidupkan musik untuk memenuhi suara didalam kamar. Kulakukan karena sering kali suara-suara aneh terdengar didalam rumah itu. Di waktu malam hanya kuhabiskan dengan ketakutan hingga aku terlelap.
Masalahnya tidak terhenti sampai disana. Aku lulus dijurusan Pendidikan Bahasa Arab, padahal aku hanya siswa tamatan sekolah umum. Kupilih jurusan itu karena keyakinan bahwa bahasa arab punya prospek yang bagus. Namun diluar dugaan, proses pembelajarannya sangat alot. Khusus untukku. Di semester satu, ada mata kuliah yang mewajibkan semua mahasiswa untuk berkomunikasi dengan bahasa arab. Namun tidak bagiku, aku tak mampu. Bahkan saat perkenalanpun aku tertatih tatih mengucapkan kata demi kata dengan iringan degup jantung yang cepat. Dosen itu memperhatikanku dengan seksama dan dia geleng-geleng kepala karena aku satu-satunya dikelas yang benar-benar "cacat".
Di setiap hari selasa, pelajaran itu selalu menghantuiku, "Muhadatsah!". Bahkan untuk menampakkan mukaku ke dosen, aku tak berani. Ketakutanku untuk berbicara bahasa arab kian menjadi-jadi. Sesekali aku bersembunyi dibalik teman-teman yang ukuran badannya lebih tinggi. Dan yang pasti aku akan memposisikan diri berada dipaling belakang kelas. Takut benar-benar takut. Sampai pernah disaat selesai presentasi, dosen bertanya dengan nada tinggi "Hal tastati'u an tatakallamu lunghtul arabiyah?" dosen tersebut bertanya seperti itu karena dilihat presentasiku yang hancur-hancuran. Mati! dalam fikiranku, yang barusan dibilang tadi apa artinya,? aku sedikit melirik ke teman yang ada disebelah sambil memberi kode tentang makna perkataan dosen itu. Tak ada jawaban, aku tak bisa berekspresi, senyum tapi ingin menangis. Pandangannya makin tajam. Hingga akhirnya ia menyerah dan menterjemah apa yang barusan dikatakannya "apakah kamu bisa berbicara bahasa arab?". "Tidak" aku tertunduk malu menjawabnya.
Selalu setelah keluar pelajaran tersebut, aku ingin rasanya menangis. Berifkir mungkin salah jurusan? apa baiknya aku pindah ke jurusan yang berbeda?. Bisa jadi karena ada beberapa teman yang sempat bilang. "Ruslan, kenapa masuk bahasa arab? kan ilmu sejarahnya oke". Memang benar, diantara teman-teman, aku termasuk yang paling menyukai pelajaran sejarah, karena kebetulan diawal semester kami disuguhi oleh mata kuliah "Sejarah Peradaban Islam". Tapi tak apa aku mencoba bertahan, apalagi jika teringat perjuangan orang tua. Ah, berat sekali rasanya jika harus menyusahkan mereka lagi.
Ditengah keputusasaan dan kesedihan itu. Allah menjawab doa yang kulantunkan untuk selalu diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masalah ini. Allah mempertemukanku dengan Bu Salami Mahmud, dosen yang mengajarkan kami mata kuliah "Istima'". Diawal, aku berfikir pelajaran ini akan sama saja dengan pelajaran bahasa arab lainnya. Tak ada yang beda. Semua prasangka itu ditepis oleh metodologi pembelajaran yang luar biasa. Tak seperti biasa memang, diawal pembelajaran bu salami mengajak kami untuk mengasah otak dengan senam otaknya, kadang dikesempatan lain beliau mengajarkan kami tentang bersyukur walau hanya meminum segelas air. Selain itu, disela-sela pembelajaran tak lupa beliau untuk memberikan motivasi meski dari hal-hal sepele. Kendati pelajarannya berat, namun saat diajarkan dengan baik semuanya terasa lebih ringan. Hingga tak ada yang tak suka dengan cara beliau mengajar.
Melihat beliau layaknya motivator, rasanya tak ragu kalau aku menceritakan semua masalah yang ada ini. Beruntung karena diawal perkenalan didalam kelas, beliau sempat menuliskan emailnya. Takut bertemu langsung, aku mencoba untuk bertanya via email. Satu hari setelah mengirim email kepada beliau, ternyata ada balasan yang isinya sangat luar biasa dan sampai detik ini aku ingat betul apa yang disampaikan oleh bu salami. "Besok datang ke kantor saya, saya punya hadiah untuk kamu". Benar, setelah sampai dikantornya beliau langsung memberi saya sebuah buku berjudul "Quantum Ikhlas" yang ditulis oleh erbe sentanu. Setelah memberikan hadiah buku tersebut, beliau berpesan kepadaku, "Buku ini bagus Ruslan, silahkan dibaca, InsyaAllah Ruslan akan memahami makna ikhlas itu".
Senang memang, namun aku bingung apa hubungan antara permasalahan yang kualami sekarang dengan ikhlas. Beberapa hari berikutnya lembaran demi lembaran kubaca dengan teliti. Memang memakan waktu agak lama, namun akhirnya buku tersebut selesai kukhatamkan. Hasilnya, tak ada. Aku mengacuhkan apa yang pernah disampaikan sebelumnya, bahwa aku akan memahami makna ikhlas itu.
Namun, ditahun-tahun selanjutnya. Ada sesuatu yang berbeda. Permasalah "muhadatsah" yang kualami sedikit demi sedikit mulai teratasi. Aku mulai berkenalan dengan beberapa teman. Bahkan dulunya yang berprinsip tidak ingin berorganisasi dan fokus pada ketertinggalan pelajaran, malah ditunjuk sebagai sekretaris umum UKM kampus.
Waktu ternyata menjawab pertanyaan-pertanyaanku dimasa lalu. Aku dipertemukan dengan seorang mahasiswa S2 asal Sudan, kami memanggilnya Syeikh Fatih. Karena kemauan yang kuatku akan bahasa arab, tak ada ragu sedikitpun untuk selalu belajar bahkan dengan orang luar sekalipun. Dengan agak kaku aku memintanya untuk mengajarkanku bahasa arab. Dia menyetujuinya. Tak lama aku mengumpulkan beberapa teman untuk ikut belajar bersamanya, tertarik dengan perkumpulan kami, beberapa orang ikut dalam kajian tersebut, walaupun banyak yang tak faham dengan penjelasan Syeikh tersebut karena menggunakan bahasa arab total. Syeikh kemudian memintaku untuk menterjemahkan apa yang disampaikannya. Dan itu menjadi salah satu pengalaman yang mangharukan.
Dan waktu masih menjawab pertanyaanku, saat ternyata aku dinyatakan lulus disebuah radio swasta di Banda Aceh. Aku dan temanku dengan heran yang perasaan antara yakin dan ragu ditunjuk untuk mengisi program belajar bahasa arab. Dalam fikirku, apa mungkin aku bisa, padahal dulu untuk sekedar memperkenalkan diri saja aku tak mampu. Namun seiring berjalannya waktu, program itu terus berjalan. "Hubbul Arabi" terus mengudara bersama suaraku yang kadang walau tak pas nahwu shorofnya namun aku terus belajar dan memperbaikinya. Kadang aku tak percaya hingga bisa menjadi penanggungjawab program tersebut.
Masih ingat sebelumnya kuceritakan tentang aku yang sendiri. Tak ada teman tak ada kenalan bahkan saudara. Namun waktu menjawab itu semua. Setelah ditunjuk menjadi sekum organisasi kampus, beberapa kali aku ikut dikegiatan nasional. Disana aku menemukan banyak pengalaman dan tentunya teman baru. Ditambah lagi dengan adanya amanah bahwa aku harus memimpin sebuah forum organisasi kampus tingkat provinsi aceh. Bukannya bangga dan jumawa, aku merasa rendah karena aslinya aku tak kenal siapa-siapa. Namun akhirnya harus dipertemukan dengan orang-orang hebat dan teman yang banyak.
Di akhir, aku mencoba merasakan rasa keputusasaan itu kembali. Rasa ingin berhenti kuliah, rasa ingin tak banyak amanah, rasa ingin sendiri dan menikmati hidup. Namun mustahil, karena akhirnya perjuangan itu berbuah manis. Sidang yang telah selesai terlaksana dengan hiruk-pikuknya berhasil dilalui. Padahal dulu presentasipun harus kupikirkan setengah mati. Memang benar ini bukan akhir perjalanan. Tapi setidaknya ini adalah miniatur kehidupan, saat aku tak berhenti berarti aku harus terus maju.
Namun, rasanya selain usaha dan doa orang-orang disekelilingku ada sesuatu yang ikut bersama jiwa ini. Tentang apa yang pernah disampaikan oleh bu salami. "Kamu akan mengerti makna ikhlas". Ikhlas pada apa yang diberikan, ikhlas untuk berjuang, ikhlas untuk selalu bertawakkal kepada Allah.



